Adab Makan dan Minum yang Benar Menurut Rasulullahn SAW

adab makan

 

Makan dan Minum Bukan Hanya Sekedar Persoalan Dunia Saja

Sebenarnya islam telah datang sebagai agama yang sempurna. Yang tidak saja mengandung tata cara ibadah kepada Allah SWT saja. Namun juga mengandung hubungan sesama makhluk yang lain, lingkungan sampai pada aturan cara makan dan minum.
Islam tidak menganggap persoalan makan dan minum hanya sekedar persoalan dunia saja, tetapi ada kaitannya dengan ibadah. Dalam hal kesehatan, ajaran islam sudah banyak dibuktikan oleh penelitian-penelitian modern akan kebenaran manfaatnya yang besar. Islam memperhatikan setiap jenis makanan yang masuk ke dalam perut, bukan sekedar enak dan ekonomis islam juga memperhatikan dari mana makanan dan minuman itu didapatkan, apakah dengan cara yang halal atau haram. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu amalan melainkan dari yang baik dan halal.
Wahai sekalian manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu ikut jejak lagkah syaitan, karena sesungguhnya Syaitan itu ialah musuh yang terang nyata bagi kamu. (QS. Al-Baqarah: 168).

Mengucapkan Bismillaah Sebelum Makan dan Minum dan Mengakhirinya dengan Memuji Allah SWT.

Di antara sunnah Nabi adalah mengucapkan Bismillaah sebelum makan dan minum dan mengakhirinya dengan memuji Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasullullah SAW:

Jika dalam satu makanan terkumpul 4 (empat) hal, maka makanan tersebut adalah makanan yang sempurna. Empat hal tersebut adalah menyebut nama Allah saat mulai makan, memuji Allah di akhir makan, banyaknya orang yang turut makan dan berasal dari sumber yang halal. (HR. Ahmad)


Bacaan Bismillaah yang sesuai dengan sunnah adalah cukup dengan mengucapkan “Bismillaah” saja tanpa dilanjutkan dengan “Arrahmaan Arrahiim”.

“Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Thabrani)


Dalam hadis lain apabila kita lupa tidak mengucapkan Bismillah, Rasulullah SAW mengajarkan :

“Jika salah satu kalian hendak makan, maka hendaklah menyebut nama Allah. Jika dia lupa menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah mengucapkan bismillahi awalahu wa akhirahu.” (HR. Abu Dawud)

Makan atau Minum Menggunakan Tangan Kanan


Islam mengajarkan untuk makan atau minum menggunakan tangan kanan. Imam Ibnu Al-Qayyim mengatakan karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan tangan kanan untuk pekerjaan baik. Maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melakukan pekerjaan tangan yang lain. 


“Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR. Muslim)


Sayang disayang jika masih saja ada sebagian kaum muslimin yang tetap menggunakan tangan kirinya untuk makan dan minum. Tidak diragukan lagi bahwa prinsip seperti itu merupakan tiruan syaitan agar manusia jauh dari sunnah Rasulnya.

Mengambil Makanan yang Letaknya Dekat


Ajaran islam lainnya terkait makanan adalah mengambil makanan yang letaknya dekat dengan kita. Sahabat Umar bin Abi Salamah menceritakan :

“Suatu hari aku makan bersama Nabi Shallallahu ’Alaihi wa sallam, dan aku mengambil daging yang berada di pinggir nampan, lantas Nabi bersabda, “Makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Muslim)


Hikmah dari larangan mengambil makanan yang berada dihadapan orang lain adalah pelajaran etika kesantunan dalam makan bersama. Hal lainnya juga terkait dengan penerimaan rezeki yang kita terima. Apabila kita ingin makanan yang labih jauh, bisa saja kita memintanya dengan baik.

Mencuci Tangan Sebelum Makan


Bicara dalam etika menyantap makanan, makan jangan dilupakan adab yang satu ini, yaitu mencuci tangan sebelum makan. Walaupun tidak ditemukan satupun hadis shahih yang membicarakan mencuci tangan sebelum makan kecuali hadis berstatus Hasan. Namun islam menganjurkan perbuatan ini, mencuci tangan sebelum makan.
Ulama Ibnu Muflih mengisyaratkan bahwa cuci tangan sebelum makan tetap dianjurkan dan ini merupakan menurut jumhur ulama. Dalam hal ini ada kelapangan, artinya jika dirasa perlu maka cucilah terlebih dahulu.

Duduklah Tanpa Harus Bersandar


Setelah selesai dengan adab cuci tangan maka ketika kita menghadapi makanan maka duduklah tanpa harus bersandar. Abu Juhaifah meriwayatkan bahwa dia berada di dekat Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW berkata kepada seseorang yang berada didekat beliau,

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Bukhari)

Yang dimaksud duduk sambil bersandar dalam hadis tersebut adalah segala bentuk duduk yang bisa disebut duduk sambil bersandar, tidak terbatas dengan duduk tertentu.
Makan sambil bersandar di makruhkan. Ibnu Hajar Al Asqalani berkata jika sudah disadari bahwa makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan meneguk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan mendudukkan kaki bagian kiri.
Namun perlu diperhatikan mengingat posisi duduk dalam makan jangan sampai kita tidak beradab dalam menghadapi jenis makanan itu sendiri.

Dilarang Mencela Makanan/Minuman


Mengomentari makanan dengan menyebutkan terlalu asin, kurang asin, lembek, terlalu keras ataupun dengan ungkapan lainnya adalah bukan hal yang terpuji dalam islam.

“Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya, jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan Minum Sambil Berdiri


Di Berbagai kota besar, undangan pesta pernikahan seringkali dilakukan dengan fasilitas dan tempat hiburan yang serba mewah. Ketersediaan fasilitas dengan hidangan VIP memang mengundang selera, namun kadang ada yang lupa bahwa katersediaan tempat duduk seringkali di tinggalkan. Mengakibatkan banyak tamu undangan yang makan dan minum sambil berdiri.

Padahal Rasulullah SAW bersabda :


“Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad)


Sekalipun larangan minum sambil berdiri tidak jatuh pada perbuatan haram, sebagaian orang melakukannya dengan alasan bahwa Rasulullah SAW juga pernah melakukan ketika beliau meminta air zam-zam kepada salah seorang sahabat dan sahabat itu memberikannya kemudian Rasulullah SAW meminumnya sambil berdiri, namun perbuatan tersebut tidak dicontohkan dalam jenis makanan dan tetap saja itu perbuatan yang kurang baik dan kurang sopan dalam kacamata agama.

Tidak Bernafas dan Meniup Air Kedalam Gelas/Wadah Air


Etika makan dan minum tidak pernah luput dari kajian para ulama yang semuanya bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam hal etika minum Nabi memerintahkan agar tidak bernafas dan meniup air kedalam gelas atau wadah air.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hal ini bisa dilihat dari kesehatan bahwa minum sambil bernafas akan membuat bercampurnya CO₂ yang dikeluarkan oleh tubuh dengan H₂O sehingga menjadi senyawa baru (cuka). Sifat keasaman cuka ini yang tidak baik bagi paru-paru kita. Sehingga makanan dan minuman panas sebaiknya tidak kita tiup, namun cukup di kipas atau didiamkan saja.

Makan Makanan Halal


Makanan yang halal adalah makanan yang diperoleh oleh syari’at untuk kita konsumsi makanan yang halal juga makanan yang diperoleh dengan cara baik dan halal. Bekerja mencari sesuap nasi dan karunia rezeki adalah kewajiban bagi setiap insan di dunia. Allah SWT dengan tegas dan jelas menerangkan dalam Al-Quran perihal mengkonsumsi makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal.

Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu. (QS. An-Nisa: 29)


Andaikan seseorang memasukan makanan yang diperoleh dari jalan haram, makanan tersebut akan masuk ke dalam aliran darah lallu menjadi daging. Maka potensi berbuat kebaikan menjadi ternoda. Sebagaimana perkataan Ibnu Ruslan, “ketaatan yang bersumber dari makanan yang haram seperti sebuah bangunan yang di bangun di atas ombak sebaliknya jika seseorang menjaga mutu dan kualitas makanan yang akan ia konsumsi maka akan terjaga pula kebaikan yang ada pada dirinya, karena pada dasarnya manusia akan dijaga oleh Allah haknya itu juga kalau manusia menjaga hak Allah SWT dalam hidupnya.

Makan Makanan Halal Menjadi Amalan Terkabulnya Setiap Do’a

Salah satu efek baik dari menjaga makanan halal di dalam tubuh kita adalah terkabulnya setiap do’a kita, In Shaa Allah.

Dalam suatu kesempatan, Sa’ad bin Abi Waqqash meminta kepada Rasulullah SAW agar berdo’a kepada Allah, meminta dijadikan sebagai orang yang do’anya mudah dikabulkan oleh-Nya. Lalu, Rasul SAW berkata kepada Sa’ad, “Perbaiki makanan yang engkau makan niscaya engkau menjadi orang yang do’anya mudah dikabulkan.” (HR. Thabrani)

4 Hal Pertanyaan Di Hari Kiamat


“Kedua kakinya seorang hamba besok di hari kiamat tidak akan terpeleset sehingga dia ditanyai tentang empat hal: (1) Tentang umur, untuk apa umur itu dihabiskan, (2) Tentang ilmu, untuk apa ilmu itu difungsikan, (3) Tentang harta benda, dari mana harta benda itu diperoleh, (4) Tentang kondisi tubuh, untuk apa kenikmatan itu digunakan.” (HR. Tirmidzi)

Kalau kita perhatikan di masa sekarang banyak manusia yang cerdas dan pintar karena ilmunya tapi dalam prakteknya mereka menggunakan ilmunya terkadang untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadi saja sehingga ilmu yang didapatkan tidak bermanfaat bahkan menjadikan dirinya sesat.
Ilmu yang mereka punya digunakan untuk berfatwa sembarangan dan dengan ilmunya pula mereka menghalalkan segala macam cara demi memenuhi ambisi pribadinya.
Dalam hal harta benda ada dua pertanyaan yang akan ditanyakan Allah SWT kepada kita, Dari mana harta itu dihasilkan dan untuk apa harta itu dibelanjakan. Harta yang kita dapatkan harus melalui jalan dan cara yang halal dan dibelanjakan di jalan yang diridhai Allah SWT.
Apabila tidak seperti itu maka pada hakikatnya harta benda yang kita miliki akan membuat manusia sengsara.
Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih berhak untuk memakan (menyiksa) daging itu.” (HR. Muslim)


Setelah harta itu kita peroleh dari jalan yang halal, maka kita pun wajib membersihkannya dengan mengeluarkan zakat apabila harta tersebut sudah sampai Nisab.

Allah SWT berfirman:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah : 103)


Kebanyakan manusia ketika sehat bugar sering lupa akan kewajiban kepada Sang Maha Kuasa dan sealalu lupa untuk melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Demikian juga ketika terbuka kesempatan yang luas dihadapannya, yaitu ketika mereka menjadi orang yang penting mereka lupa akan kebaikan yang mesti dilakukan. Namun ketika semua telah sirna dan selesai dari jabatannya, yang sibuk sudah menjadi tidak sibuk, yang bekerja sudah pension dan militer sudah menjadi purna wirawan. Mereka baru sadar akan pentingnya jabatan orang penting alangkah ruginya bagi orang-orang yang suka menunda-nunda kebaikan ketika sedang dalam keadaan sehat dan punya peluang untuk melakukannya.
Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua kenikmatan, kebanyakan manusia terlena dengan keduanya (sehingga mereka tidak diberkahi Allah), yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR. Al-Bukhari)


Makan dan minum adalah hal yang sangat mendasar karena sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kita. Jangan sampai apa yang kita makan atau minum justru akan melahirkan murka Allah SWT karena makanan dan minuman bisa menyebabkan seseorang masuk kedalam surga dan neraka.

Postingan terkait: